Sewaktu duduk di bangku kelas satu SMA dulu, seorang guru bahasa dan sastra Indonesia berkacamata yang berpenampilan agak kemayu membuyarkan lamunan saya. Seakan-akan dia tahu kalau saya tidak sedang konsentrasi kepada pelajaran yang disampaikan. Padahal, saat itu dia sedang memaparkan konsep cinta dan segala tektek bengeknya. “Coba kamu deskripsikan apa itu cinta?”
Saya tidak siap dengan pertanyaan yang mendadak mendarat seperti itu. Apalagi yang dia tanyakan konsep cinta. Waktu itu, tentu saja belum baca buku The Art of Love-nya Erich Fromm dan baca puisi Kahlil Gibran. Pertanyaan itu saya terima sebagai ledekan karena saya tidak berkonsentrasi, atau ledekan karena saya ketahuan sudah punya pacar sesekolah, dimana setiap ada kesempatan selalu lengket berdua. Sungguh, saat itu saya tidak bisa mendeskripsikan apa itu cinta secara detail dan mengena. Jawaban saya waktu itu, “Cinta ya pacaran, Pak?”
Kelas bergemuruh riuh. Guru tersenyum kecut...@.@
Tetapi Beliau bilang, apa yang saya katakan itu tidak terlalu keliru. “Hanya pengertian cinta tidaklah sesederhana itu,” katanya. Dia pun menjelaskan cinta secara definisi, ungkapan, makna, maupun pengejawantahannya. Wah, rumit benar, pikir saya waktu itu. Yang saya tahu dan rasakan, "cinta itu ya pacaran!" Cinta itu yang lengket-lengketan jika ada kesempatan.
Baru kemudian saya tahu ada cinta orangtua, cinta anak, cinta Allah, cinta Rasul, cinta keluarga, cinta buta (yang katanya beda dengan buta cinta), cinta mati, cinta setengah mati, dan seterusnya. Duh, banyak sekali jenis cinta itu, apa perlu saya hapalkan satu persatu, pikir saya waktu itu.
Belakangan saya rasakan apa yang disebut cinta mati. Maksudnya, saya cinta banget seseorang, seakan-akan tidak ada yang lainnya di dunia ini. Lalu saya bilang sama dia, “Aku mencintaimu sepenuh hati!” Pacar tentu saja senang dengan pujian itu. Hanya saja saya terpaksa gigit jari ketika dengan tidak berperasannya pacar mendepak saya. Putus, tusss… Padahal, saya sebelumnya sudah mengaku cinta mati dan cinta sepenuh hati.Gagal sudah definisi cinta yang saya bangun sendiri, ambruk. Boro-boro cinta sepenuh hati, remah-remahnya pun tak tersisa. Saya bahkan sudah tidak mencintainya lagi saat ia jadian dengan CO lain. Duh, cinta yang penuh di hati bisa menjadi tiba-tiba tandas dan kering kerontang ya!
Lantas harus mencari cinta seperti apa lagi? pikir saya.
Saya bersumpah tidak akan pernah mengatakan lagi “Aku mencintaimu sepenuh hati” kepada siapapun. Pada akhir perjalanan hidup, bahkan saya tidak pernah mengatakan “Aku cinta padamu” kepada siapapun, termasuk kepada pacar yang sekarang. Tidak inggin. Kenapa? Sebab saya tidak mau terperangkap sikap munafik.
Taruhlah saya menyatakan “Aku mencintaimu sepenuh hati”, tetapi dalam perjalanan kehidupan asmara selalu saja ada pertengkaran dan perselisihan kecil. Apakah pada saat perasaan marah dan jengkel masih mampu berucap “Aku mencintaimu sepenuh hati?” Rasanya berat ya. Mungkin saat itu isi hati tidak penuh-penuh amat oleh cinta!
Apakah dengan tidak pernah mengatakan “cinta” saya telah kehilangan makna cinta sesungguhnya. Tidak juga!
Jadi, harus saya apakan cinta yang sekarang saya miliki?
Jawabnya: mencintai dengan bijaksana!
Mungkin....
***
0 komentar:
Posting Komentar